• Kam. Feb 5th, 2026

Sungai Kapuas di Suhaid Dikepung PETI — Warga Geram: “APH Jangan Tutup Mata, Jangan Pekakkan Telinga!”

Bynetnewstv.com

Nov 6, 2025


Kapuas Hulu, NetNewsTV.com — 6 November 2025,Sungai Kapuas di wilayah Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu, kini berada di ambang krisis lingkungan serius. Di sepanjang jalur Semitau Hilir hingga Nanga Suhaid, ratusan lanting tambang emas tanpa izin (PETI) terlihat menutupi permukaan air. Suara deru mesin penyedot emas terdengar siang malam, menggantikan kicau burung dan gemericik air yang dulu menjadi ciri khas Kapuas.

“Airnya sudah seperti kopi, ikan mati, anak-anak kami tak bisa mandi lagi di sungai,” ungkap seorang warga setempat dengan nada kesal. Ia menuturkan, aktivitas ilegal itu telah berlangsung bertahun-tahun tanpa tindakan tegas. Masyarakat pun mulai kehilangan kesabaran karena tak ada perubahan nyata.

Warga menilai dalih klasik para pelaku PETI — yakni “hanya untuk mencari makan” — sudah tidak relevan. “Kalau cuma cari makan, tak mungkin bisa bangun lanting seharga puluhan juta rupiah. Itu bisnis besar berkedok rakyat kecil,” tegas seorang tokoh masyarakat Suhaid.

Lebih parah lagi, warga menuding aparat penegak hukum (APH) baru bergerak jika kasus sudah viral di media sosial. “Jangan hanya turun saat ramai di internet. Kami di sini melihat sendiri, siang hari pun mereka bekerja. Tapi begitu ada kabar razia, semua lenyap entah ke mana,” kata seorang ibu rumah tangga dengan nada marah.

Padahal, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba secara tegas melarang aktivitas pertambangan tanpa izin. Namun, di lapangan hukum seolah tak berdaya. Kapuas Hulu kini menjadi contoh nyata bagaimana lemahnya pengawasan lingkungan di daerah yang jauh dari pusat perhatian.

Warga mendesak pemerintah dan aparat agar tidak lagi berpura-pura tidak tahu. “Kami butuh tindakan nyata, bukan seremoni. Jangan hanya buat laporan indah di atas meja. Sungai ini sumber hidup kami, bukan tambang emas untuk segelintir orang,” ujar warga dengan nada kecewa.

Kini, Sungai Kapuas tak hanya tercemar, tapi juga kehilangan identitasnya. Dari kebanggaan Kalimantan Barat, berubah menjadi simbol kelalaian dan kerakusan manusia. “Kalau alam terus dikhianati, jangan salahkan ketika bencana datang. Alam tidak pernah diam saat disakiti,” tutup warga penuh harap agar suara mereka akhirnya benar-benar didengar.

Penulis: Win | Editor: Redaksi NetNewsTV.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Butuh Bantuan?